Viral Gejala Penipuan Atas Nama Agama, Apa Yang Harus Dilakukan?

Viral Gejala Penipuan Atas Nama Agama, Apa Yang Harus Dilakukan? – Gejala penipuan atas nama agama akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Karena yang menjadi korban, bukan hanya satu dua orang, melainkan jutaan orang. Jumlah ini tidak dilebih-lebihkan, dimulai dari kasus penipuan umroh yang menelantarkan ratusan ribu jamaah dari Abu Tours, First Travel, Solusi Balad Lumampah (SBL), hingga Hannien Tours. Ada juga pengakuan manajer Paytren Hilwa Humairo yang menyebut jumlah korban Paytren hingga dua juta orang. Kerugiannya, trilyunan uang para korban, itupun belum dihitung jumlah dari penipuan klaster rumah dengan iming-iming syariah.

First Travel misalnya, jumlah korban nya sebanyak 63 ribu orang dengan nilai kerugian hingga Rp905 miliar. Kasus First Travel belum selesai muncul kasus travel Abu Tour, yang juga menggelapkan uang jamaah hingga gagal berangkat. korbannnya bahkan mencapai 86 ribu orang dengan total kerugian umat Islam sebesar Rp1,4 triliun. Tidak berenti sampai di situ, sebanyak 45 jamaah umrah Pada pada November 2019 lalu, tidak diberangkatkan oleh biro travel nya, padahal mereka telah membayar Rp21 juta. Sementara kasus Paytren merupakan skema Ponzi yang merugikan lapisan bawah, pula dari sisi agama bernilai batil, karena mencampurkan sadaqah yang harusnya ikhlas menjadi keuntungan.

Mengapa marak kejadian penipuan atas agama? Apalagi korban terbesarnya adalah ummat Islam. Padahal, mengacu pada dalil dalam agama Islam, penipuan bukan hanya haram, tetapi pelakunya dianggap murtad dan keluar dari golongan muslim sebagaimana hadist berikut ini.

“Barang siapa yang menipu, ia bukan termasuk golonganku.”
(Hadits riwayat Muslim dan Turmudzi)

Bila sang penipu tidak mampu mengembalikan hasil tipuannya, maka di hari pengadilan dalam kepercayaan muslim, sesuai dengan dalil tersebut, dia tetap dihukumi di luar Islam, serta akan digolongkan ke orang yang mendapat syafaat sang Nabi. Meskipun meninggal dikondisikan sebagai muslim dengan ritual muslim.

Oleh karena itulah, seorang pencuri pun akan dihukumi keras dengan dipotong tangannya, karena demi menyelamatkan dirinya di hari pengadilan akhir. Apalagi yang menipu, memperdaya memanfaatkan emosi keagamaan dengan menggunakan dalil agama. Kebanyakan orang Indonesia memang cenderung memaafkan, tapi kerusakan mengacu pada ekonomi ummat sangat besar. Betapa tidak, uang itu seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi ummat Islam, malah terbuang percuma untuk memperkaya orang perorang.

Namun, pada sisi lain kita dapati kerapuhan umat Islam apabila menghadapi orang yang berpenampilan tampak alim dan sholeh, tapi ternyata menyimpan maksud tidak baik. Kesholehannya adalah topeng yang sangat memperdaya, karena tidak ada kelemahan di sana. Sejatinya tidak ada yang berhasil lepas dari tipuan atas nama Agama. Kita akan tahu hal itu tipuan jika sudah tertipu, atau sudah kehilangan sekian banyak uang, karena sisi husnuzan, atau prasangka baik yang selalu ditekankan ummat Islam kepada sesama manusia.

Lalu apa yang mesti dilakukan? Harta benda Anda adalah hak Anda, tapi ada kewajiban juga dibaliknya. Tidak ada yang boleh mengaturnya sesuka hati, tapi Anda memiliki kewajiban memimpin keluarga dengan cara memanfaatkan harta benda titipan Tuhan ke jalan yang benar, bukan dengan jalan memperkaya para penipu, pembohong, yang akan membawa mudharat besar. Membelanjakan harta kepada para penipu, orang yang gunakan harta itu untuk dimubajirkan atau foya-foya, padahal Anda menitipkannya untuk maksud yang baik, maka Anda akan dimintai pertanggungjawabannya, jika Anda tidak tahu, Anda dizalimi, jika Anda tahu tapi membiarkan, maka Anda yang zalim. Jika anda mengetahui segala penipuan yang terjadi di sekitar anda, anda bisa melaporkannya melalui https://www.mdsbet.com tanpa harus kekantor polisi untuk membuat laporan lagi karena pihak situs tersebut sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian.

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
RSS
Follow by Email
Instagram