Berita Hoax Corona Mengancam Kita, Buzzer vs Media Massa vs Pemerintah

Berita Hoax Corona Mengancam Kita, Buzzer vs Media Massa vs Pemerintah – Kata buzz sebelumnya tidak pernah ada. Saya sebut saja, pada era awal 2000 belum ada istilah semacam itu. Kata influencer juga belum pernah ada. Orang lebih mempercayakan suatu pendapat, kepada para ahli di media massa. Para ahli adalah perpanjangan tangan publik. Mereka membentuk LSM, mereka membuat jaringan advokasi, dengan keahliannya, menjembatani publik dengan sesama publik, juga publik dengan pemerintah.

Para ahli mengadvokasi pendapat masyarakat di media massa, mereka menamakan diri dengan kolumnis. Umumnya para kolumnis ini sangat pandai, karena sudah discreening ketat oleh para editor media bergaji mahal, yang digaji untuk jadi lebih pintar dari para professor. Bahkan di antara redaktur ada yang disekolahkan setinggi-tingginya, oleh media massa tempat dia berkerja. Mengejar gelar Ph.D di luar negeri, mereka memiliki titel Professor dan Doktor, walau begitu mereka tetap menjadi redaktur di media massa, melakukan assement kepada para kolumnis yang ingin menyuarakan sesuatu.

Karena proses akademis di media massa itulah, pendapat para kolumnis ini sangat berkualitas dan terjamin kebenarannya. Di antara mereka di Indonesia adalah Prof. Sri Mulyani, yang sekarang Menteri Keuangan, dia rutin menulis kolom untuk Kompas, Tempo, Gatra, dan puluhan media lainnya. Ada juga Prof AM Saefuddin, mantan Menteri Pertanian, Prof Siswono, mantan Menteri Tenaga Kerja. Mereka menulis di media massa dari tanpa titel, hingga bertitel dan menjabat jabatan tinggi pemerintahan.

Tapi kini di era Buzzer, orang bisa menulis tanpa screening, tanpa assesment akan data dan fakta yang ada pada tulisan mereka. Sifat update kilat yang ada pada internet, menjadikan para ahli tersingkir oleh para buzzer dan influencer yang minim pengetahuan. Kemapuan besar buzzer dan influencer adalah kemampuan untuk mocking, hacking, meledek dan merusak pendapat lawannya, sehingga orang Indonesia, yang umumnya senang reramean, suka akan kontroversi akan lebih memilih mendukung buzzer dan influencer dibanding para ahli yang penuh data yang membosankan.

Dari situlah bencana hoax menyebar tidak terkendali. Karena masyarakat lebih menyukai kisah-kisah fantastis –yang berarti penuh kemungkinan fantasi, mimpi, khayalan, bohongan, dibohongi, dibandingkan realitas. Contoh terbaru yang kali ini tengah viral adalah tentang penanganan orang yang kena Corona di tanah air.

Saat artikel ini dibuat, mereka yang terkenal Corona baru dua orang terkonfirmasi. Namun, sebulan sebelumnya sudah beredar kabar yang kena mencapai ratusan orang. Kabar itu disebarkan oleh para buzzer dan influencer sehingga menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Rilis resmi pemerintah tidak dipercayai, karena pemerintah sendiri tidak jarang mengeluarkan pendapat berlawanan yang meresahkan masyarkat. Akhirnya Indonesia menjadi tidak siap menghadapi wabah Corona karena semua pihak mempolitisir wabah ini untuk kepentingan kelompoknya. Artinya, wabah Corona adalah komoditas perang buzzer dan influencer yang paling panas saat ini. Mengapa melakukan itu? Karena menguntungkan untuk pertahankan follower.

Lalu di mana posisi media massa sebagai penjaga informasi? Posisi media massa tengah dilema. Karena bagaimanapun mereka menikmati peran buzzer menyebarkan kabar yang mereka buat ke tengah masyarakat. Benar, buzzer dan influencer itu ikut memviralkan berita yang dibuat media massa sehingga pembaca satu kolom/web page berita, bisa mendapat hits jutaan. Media pada akhirnya lebih memilih memberi makan karyawannya, dibanding membatasi para buzzer . Media tentu meralat kabar buzzer, tapi ralat itu malah jadi bagian lingkaran buzz juga.

Leave a Reply

RSS
Follow by Email
Instagram