Pemerintah Memberikan Sanksi Tegas Kepada Pertamina Akibat Tumpahnya Minyak Di Teluk Balikpapan

KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) memastikan PT Pertamina RU V Balikpapan mendapatkan sanksi berupa sanksi administrasi akibat tumpahnya minyak di Teluk Balikpapan pada 31 Maret 2018 lalu. Siti Nurbaya selaku Menteri KLHK memberikan sanksi tersebut setelah ditemukan bukti kelalaian PT Pertamina di lokasi tumpahnya minyak. Dari pengamatan di lapangan ditemukan bahwa PT Pertamina RU V Balikpapan tidak memiliki early warning system dan tidak ada pemantauan. Seharusnya ketika terjadinya penurunan tekanan, secara otomatis akan tampil di komputer. Jika PT Pertamina memiliki sistem yang baik, seharusnya tidak membutuhkan waktu hingga 7 jam untuk menemukan adanya keanehan pada mesin dan tidak perlu sampai terbakar. Hasil temuan tersebut juga membuat PT Pertamina wajib melakukan perbaikan pada sistemnya.

Tumpahnya Minyak Di Teluk Balikpapan

Setidaknya akibat kejadian tersebut telah memakan 5 korban, jadi ada kemungkinan PT Pertamina mendapatkan sanksi tambahan. Akibat kelalaian PT Pertamina tersebut, PT Pertamina juga diwajibkan memulihkan kembali kondisi lingkungan yang ada di Teluk Balikpapan karena tumpahnya minyak merusak mangrove yang ada dan juga ekosistem laut di sekitar Teluk Balikpapan. Perbaikan awal yang dilakukan PT Pertamina adalah menyiapkan pipa bawah laut yang baru untuk menggantikan pipa yang putus. Pipa yang putus itulah yang menjadi penyebab terjadinya kebocoran minyak di Teluk Balikpapan hingga 40.000 barrel. Pergantian pipa akan segera dilakukan setelah mendapatkan izin dari pihak penyidik.

Sampai saat ini pipa yang terputus masih berada di tempat yang sama dan belum ada pergantian pipa baru, karena memang penyidikan masih berlangsung. Sehingga ketika pipa yang lama diganti dengan pipa baru, maka asal-muasal terjadinya tumpahan minyak ke Teluk Balikpapan tidak dapat diketahui secara pasti. Walaupun PT Pertamina belum melakukan pergantian dengan pipa baru, PT Pertamina telah mengalirkan minyak dari Terminal Crude Lawe Lawe ke Balikpapan dengan menggunakan pipa lainnya yang memiliki diameter sebesar 16 inci. Diharapkan dengan kejadian ini tidak membuat masyarakat pemain kekurangan minyak ataupun bahan-bakar dan pencemaran minyak dapat segera teratasi sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah.

Menurut PT Pertamina, pipa yang terputus tersebut menggunakan pipa yang kuat dengan bahan carbon steel pipe API 5L grade X42 yang memiliki ketebalan 12,7 mm. Kekuatan pipa terhadap tekanan juga telah diukur dari safe maximum allowable operating pressure dengan nilai sebesar 1061,42 Psig. Dari pengukuran didapatkan operating pressure pipa hanya sebesar 170,67 Psig. Dengan begitu belum diketahui faktor-faktor yang menjadi penyebab terputusnya pipa. Selain itu pipa tersebut juga selalu diinspeksi secara berkala dengan inspeksi terakhir pada tanggal 10 Desember 2017 (visual inspection) untuk mengecek cathodic protection, kondisi eksternal pipa dan juga spot thickness.

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
RSS
Follow by Email
Instagram